Emisi Gas Karbon: Rantai Pasokan dan 8 Bentuk Solusinya

Apakah setiap penyebab yang berbeda menghasilkan akibat yang berbeda? Apakah masalah emisi gas karbon pun merupakan hasil dari penyebab yang berbeda-beda pula? 


Tidak hanya pandemi Covid-19, konsekuensi dari emisi gas karbon yang kita produksi pun mulai terlihat dampaknya. Namun, apakah kita sebenarnya paham dari mana asalnya?

Sebuah tulisan oleh World Economic Forum telah mampu mengklasifikan sektor-sektor industri mana saja yang terbukti memiliki kontribusi besar dalam emisi gas karbon ini.

Adapun lembaga World Economic Forum adalah sebuah organisasi internasional yang turut mendorong hadirnya diskusi mengenai politik, bisnis, budaya, dan sebagainya untuk merancang agenda kawasan regional maupun global.

Pertama, tulisannya yang berjudul Net Zero Challenge: The Supply Chain Opportunity WFE menemukan bahwa emisi gas karbon juga memiliki rantai pasokan yang sama dengan konsep ekonomi pada umumnya. Rantai pasokan ini mengindikasikan bahwa sebuah industri yang terletak pada suatu daerah masih mampu menghasilkan gas karbon meskipun barang atau produk yang dihasilkan sudah tidak berada di wilayah aslinya. Data pun menunjukkan bahwa perputaran rantai pasokan ini bertanggung jawab atas 50% emisi gas karbon dunia.

Kedua, WEF pun memberikan beberapa solusinya mengenai masalah pasokan rantai emisi gas karbon di atas. Dengan memahami bahwa konsekuensi merupakan akibat dari penyebab yang bervariasi, maka dibutuhkan beberapa pendekatan yang berbeda pula.

Pasokan Rantai Gas Karbon Dunia

Untuk mencapai dunia dengan emisi gas karbon sebesar 0%, kita harus mengetahui dari mana tantangan kita ini berasal. Untuk menyingkapi tantangan ini, WEF telah mampu menyingkapkan bahwa gas karbon tidak hanya muncul dan hadir di satu wilayah saja. Namun ia turut berpergian ke seluruh penjuru dunia.

WEF memaparkan bahwa emisi gas karbon yang dihasilkan oleh industri—baik itu agrikultur, pertambangan, tekstil, dan sebagainya, selalu berawal dari barang mentah dan bahkan tetap hadir pada produk siap dan layak guna. Dengan kata lain, emisi gas karbon tersebut akan terus ada untuk mengikuti dan menghasilkan ke mana pun produk itu pergi.

Melalui tabel oleh WEF di atas, pertama kita dapat memahami bahwa terdapat 8 sektor industri utama yang menjadi kontributor utama dunia dalam emisi gas karbon. Industri makanan, konstruksi, tekstil, industri plastik, elektronik, otomotif, industri jasa dan ekspedisi merupakan sektor-sektor industri yang memiliki nilai emisi karbon terbesar di dunia. Industri makanan memiliki statistik sebesar 25% dari total dunia. Diikuti oleh konstruksi sebesar 10%, setelahnya tekstil dan plastik masing-masing sebesar 5%.

Hal kedua yang dapat dipahami di atas adalah bagaimana produk yang dihasilkan—baik dari barang mentah hingga layak guna—memiliki proses yang terus menghasilkan gas karbon. Sebagai contoh, industri makanan memerlukan industri agrikultur dan pertanian dalam menghasilkan produk mentahnya. Gas karbon yang telah dihasilkan oleh industri ini kemudian ditambah, baik oleh proses pengiriman ekspedisi maupun pabrik-pabrik yang memproses produk mentah makanan menjadi layak konsumsi.

Untuk bisa lebih memahami persentase dari signifikansi emisi gas karbon yang diproduksi dari setiap industri, kita bisa memperhatikan tabel di bawah ini:

Dapat disimpulkan bahwa setiap industri memiliki alur proses barang mentahnya untuk menjadi barang yang siap guna. Prosesnya akan cenderung berbeda dengan produk dari industri lain. Sehingga, dibutuhkan pendekatan yang bervariasi untuk menyingkapi permasalahan ini.

8 Solusi atas 8 Masalah

Pemaparan data atas tabel dan pembahasan sebelumnya tentunya akan menghasilkan sebuah pertanyaan. Bagaimana kah kita semua mampu berkontribusi untuk mengurangi emisi gas karbon dan kompleksitas rantai pasokannya?

WEF menjelaskan bahwa, decarbonizing, atau mencabut emisi gas karbon dari masing-masing sektor industri memerlukan kombinasi pendekatan yang bervariasi.

  • Circularity atau recycling: merupakan cara sederhana yang dapat dilakukan untuk menambah perputaran barang-barang daur ulang.
  • Material and process efficiency: Sebuah solusi untuk mengurangi SDA yang terbuang/meningkatkan efisiensi pada proses produksi untuk mengurangi kebutuhan dan konsumsi energi. Inovasi dan infrastruktur yang bersifat berkelanjutan akan mendukung solusi ini untuk tercapai.
  • Renewable powerMengubah arah industri untuk menggunakan sumber energi yang terbarukan, seperti pembangkit tenaga angin, solar powerbioenergy, dan sebagainya.
  • Renewable heat: Mengganti penggunaan batu bara, gas alam dan minyak bumi sebagai penghangat dan penghasil uap industri. Sumber daya alternatif seperti penggunaan biomass, biogas, dan hidrogen untuk aplikasi perusahaan bertemperatur tinggi merupakan beberapa opsi untuk digunakan.
  • New Processes: Memperkenalkan atau mengganti proses produksi, seperti penggunaan green hydrogen sebagai bahan pokok utama untuk industri pupuk dan agrikultur.
  • Nature-based solutions: Meningkatkan penggunaan praktik agrikultur yang berkelanjutan, seperti pemupukan yang presisi, praktik nil-deforestasi-hutan, dan implementasi-implementasi lain yang mengkonsiderasikan lingkungan.
  • Fuel switch: Mengubah semua bentuk proses pembakaran dengan solusi yang lebih ramah lingkungan, seperti menggunakan listrik berenergi battery, hydrogen, e-kerosene, biofuels, ammonia ramah lingkungan, dan sebagainya.
  • Carbon capture, utilization, storage: Menciptakan teknologi untuk menangkap emisi kabon dari proses maupun pembakaran dalam produksi pada sebuah industri.

Melalui 8 solusi di atas, WEF pun telah memetakan bagaimana pendekatan-pendekatan di atas dapat dikombinasikan antara satu sama lain pada industri-industri terkait.

Selain pemetaan solusi, pendekatan, dan kombinasinya pada industri yang terkait, WEF juga telah memberikan gambaran besar-kecilnya biaya yang diperlukan pada masing-masing solusi di atas.

Melalui 8 solusi yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan biaya yang diperlukan, tentunya akan mempermudah proses konsiderasi yang perlu dilakukan oleh perusahaan.

Namun, tentunya pertanyaan kembali ke pada kita semua: Apakah bahkan dengan biaya yang kecil dan inisiatif yang sederhana, kita sudah bisa memulai perubahan dari diri kita sendiri?

***

Baca juga:

https://staging.cesgs.or.id/2021/01/25/3-alasan-utama-perusahaan-sulit-berkomitmen-pada-esg-investing/

https://staging.cesgs.or.id/2021/02/01/sustainable-development-dan-tantangan-institusi-internasional/

 

Share This Story, Choose Your Platform!

About the author : M Kamil Ghiffary