Energi dan Krisis Kita Semua: Studi Kasus Texas

Texas Fallout

Beberapa minggu yang lalu tepatnya di salah satu negara bagian Amerika Serikat, Texas, telah mengalami sebuah krisis energi yang mengakibatkan hampir kelumpuhan total di beberapa kawasannya. Kelumpuhan total ini disebabkan oleh terganggunya fasilitas publik untuk beroperasi, seperti sanitasi air, makanan yang layak guna, listrik, dan sebagainya.

Lumpuhnya fasilitas sederhana seperti penghangat ruangan pun menjadi sangat kritikal. Pasalnya, Texas sedang mengalami cuaca ekstrim dengan temperatur yang sangat rendah. Temperatur udara yang membekukan dan badai salju yang kerap terjadi mampu melumpuhkan jutaan rumah dan bisnis lokal.

Air pun merupakan komoditi yang sangat susah untuk dimiliki pada krisis energi Texas 2021 ini. Hal ini disebabkan ketidakhadiran listrik turut menghasilkan tidak beroperasinya penghangat pipa ledeng, yang berfungsi untuk mencegah membekunya air jika temperatur menyentuh angka yang sangat rendah. Hasilnya? Sebagian besar kawasan di Texas tidak mampu mendapatkan air bersih yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat pada umumnya.

Makanan segar dan layak guna pun merupakan komoditi yang turut langka untuk ditemui. Pasalnya, lemari pendingin atau kulkas tidak mampu beroperasi tanpa hadirnya enegri listrik. Selain itu, mengingat krisis energi Texas telah terjadi selama beberapa hari, bukan tidak mungkin bahwa makanan-makanan tersebut kemudian mengalami pembusukan yang lebih cepat. Menghasilkan produk yang justru berbahaya jika dikonsumsi.

Tidak hanya berhenti di rumah-rumah. Krisis pasokan makanan pun dapat ditemui di pasar modern atau market setempat. Ketidakhadiran listrik turut menyebabkan lumpuhnya fasilitas seperti ruang pendingin atau ruang penyimpanan produk-produk tersebut. Alhasil, hanya sedikit makanan yang dapat di jual di beberapa toko.

Bahkan, turut dilansirkan bahwa beberapa toko harus membuang banyak produk makanannya seperti daging dan sayurannya karena ketidak mampuannya dalam menjaga sanitasi, kebersihan, dan kesegaran dari produk-produk tersebut.

Kebijakan-kebijakan kontroversial pun mulai diregulasikan dari toko-toko setempat mengingat rantai pasokan makanan dan bahan mentah yang mereka butuhkan turut terganggu. Kebijakan ini salah satunya adalah membatasi masyarakat setempat untuk membeli bahan-bahan pokok seperti telur, susu, tisu, dan sebagainya. Hal ini diyakini sangat menyulitkan penduduk setempat, yang pada umumnya tidak memiliki akses pada energi listrik dan air lebih dari 72 jam.

Tentunya dengan masalah jumlah produk makanan dan bahan mentahnya yang menipis akan menyebabkan masalah pada hilir-hilir isu ini. Sebut saja restoran-restoran setempat, hotel, rumah sakit, dan fasilitas publik lainnya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Tidak dipungkiri lagi bahwa cuaca ekstrim dan badai es di Texas kemarin merupakan penyebab utama mengapa energi krisis tersebut bisa terjadi.

Fasilitas yang berfungsi untuk memproduksi energi pun dianggap sudah terlalu tua untuk mampu bersaing dengan cuaca ekstrim ini. Selain itu, regulasi mengenai fasilitas pembangkit tenaga Texas yang diyakini terlalu independen turut mendapat sorotan. Pasalnya, Texas akan susah mendapatkan pinjaman energi dari negara bagian terdekat jika krisis energi akan terjadi kembali.

Jika kita renungkan kembali, penggunaan bahan bakar yang non-terbarukan pun memiliki andil besar dalam fenomena krisis energi ini. Bagaimana tidak? Bahan bakar fosil yang tidak berkelanjutan pasti memiliki dampak lingkungan yang sangat merusak jika dibandingkan dengan sumber energi yang terbarukan, seperti turbin tenaga angin, air, panel surya, dan sebagainya. Ini adalah lingkaran kehancuran yang harus mendapati sorotan dunia, terutama Amerika Serikat.

Data pada tahun 2019 masih menunjukkan bahwa penggunaan bahan bakar fosil oleh Amerika Serikat masih menyentuh angka 62% dari seluruh sumber energi yang tersedia. Persentase ini disusul oleh tenaga nuklir sebesar 19.6%, dan energi terbarukan sebesar 17.6%. Ironisnya adalah, Amerika Serikat merupakan salah satu negara dengan penggunaan bahan bakar fosil yang cenderung rendah pada skala dunia.

Menurut ourworldindata, Amerika Justru berada dalam spektrum yang cenderung ‘baik’ jika dibandingkan dengan Cina, Inggris, Jerman, Jepang, India, dan khususnya Indonesia. Tentunya, kejadian ini bisa menjadi refleksi besar kita dalam melihat seberapa gentingnya posisi kita saat ini.

Jika Amerika Serikat dengan konsumsi bahan bakar fosil yang cukup rendah harus merasakan konsekuensinya layaknya apa yang telah dirasakan oleh Texas, bagaimana dengan Indonesia?

Pengingat untuk Kita?

Sangat klise rasanya jika kita kemudian mengatakan dalam diri kita sendiri, dengan ucapan “…Dari hal ini kita telah belajar…” dan sejenisnya.

Mengapa demikian? Karena sebenarnya urgensi kita pun serupa dengan apa yang telah dialami oleh Texas. Hanya saja, banyak dari kita yang belum merasakan dampak langsung yang diterima oleh saudara-saudara kita di wilayah-wilayah tertentu di Indonesia.

Polusi udara, kabut hitam hasil kebakaran hutan, banjir, longsor, dan cuaca ekstrim yang merupakan buah tangan dari perilaku kita sendiri pun sangat sering kita temui di mana-mana. Ironisnya, Indonesia akan cenderung terlalu mudah untuk dijadikan bahan pembelajaran akan alam dan lingkungan yang semakin terlupakan.

Oleh karena itu, kita perlu berhenti untuk mengatakan semboyan klise tersebut. Layaknya sebuah peribahasa, Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak: Kita seolah-olah selalu belajar dari kesalahan orang lain, seakan-akan kita tidak pernah dan tidak sedang melakukan kesalahan itu. Kita harus membuka mata dan pikiran. Bahwa urgensi tidak hadir dan datang jauh dari sebrang pasifik, tapi di depan pintu rumah kita sendiri.

***

Baca juga:

 

 

Share This Story, Choose Your Platform!

About the author : M Kamil Ghiffary

Find Us On Facebook

Tags