WFH dan ESG Index: Manfaat dan Hal Yang Harus Diperhatikan

WHO maupun pemerintah Indonesia telah memprediksi bahwa pandemi covid-19 akan tetap hadir hingga beberapa tahun ke depan. Maka tetap berlakukannya Work From Home (WFH) adalah kemungkinan yang cukup besar untuk terjadi. Namun, apakah hal ini bisa dinormalisasi? Apakah yang harus diperhatikan dari WFH? Mengapa ini berpotensi untuk berhubungan dengan kriteria ESG dalam perusahaan?


Highlights:
  • Covid-19 Meningkatkan Tren Perusahaan yang Menerapkan WFH
  • Karyawan justru Merasakan Manfaat yang Sangat Besar Selama WFH
  • Perusahaan Harus Mampu Menemukan Titik Temu antara Kebutuhan Mereka dan Karyawannya
  • Pahamnya Perusahaan atas Kebutuhan Karyawannya Berhubungan Lurus dengan Kriteria Sosial dan Tata Kelola Perusahaan dalam ESG

Work From Home, atau yang umum disebut dengan WFH, merupakan salah satu kebijakan pemerintah sebagai respon atas pandemi covid-19. Kebijakan ini adalah berupa anjuran kepada semua perusahaan untuk memperkerjakan karyawannya secara remote dari rumah masing-masing. Tujuannya tidak lain adalah untuk menekan kurva peningkatan covid-19 di Indonesia.

Masyarakat global pun sudah merayakan satu tahun penuh dalam melakukan WFH ini. Tak ada yang menyangka, ternyata covid-19 masih menjadi masalah yang cukup nyata di sekitar kita bahkan hingga satu tahun lamanya. Dengan kata lain, WFH pun mungkin akan tetap menjadi aktivitas yang sangat sering dan normal untuk ditemui.

Lantas, apakah WFH merupakan fenomena baru di dunia ini?

Working From Home: Sebelum Pandemi Covid-19

Jika fenomena Working From Home sangat langka untuk kita temui di Indonesia khususnya pasca covid, mungkin kita harus sedikit jalan-jalan ke luar negeri. Sebut saja destinasi kita adalah Amerika Serikat.

Menurut Statista Research Department, tercatat sebanyak 17% masyarakat Amerika Serikat pernah dan rutin melakukan WFH lima hari dalam seminggu. Statistik ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan nilainya yang mencapai 44% setelah pandemi covid-19 melanda.

Jika kita berpindah destinasi dari Amerika Serikat ke Eropa, working from home pun bukan fenomena yang sangat baru untuk ditemui. Khusus di Eropa, masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan teleworking dibandingkan working from home.

European Commission telah menghitung bahwa di Eropa sendiri pada tahun 2019 memiliki angka pekerja yang melakukan WFH sebesar 9%. Tentunya presentase ini merupakan rata-rata dari seluruh masyarakat dan 10 jenis pekerjaan terbesar di Eropa, seperti jasa komunikasi, bisnis, edukasi, broadcast, dan sebagainya. Dengan kata lain, statistiknya tidak kalah besar jika dibandingkan dengan statistik pekerja di Amerika Serikat yang melakukan WFH.

Jenis-jenis pekerjaan yang mengharuskan pekerjanya untuk memiliki tingkat kemampuan yang di atas rata-rata, seperti jasa komunikasi dan IT, sudah sangat normal untuk mempraktikkan teleworking ini. Menurut Eurofund 2016, jenis-jenis pekerjaan ini adalah seperti pekerja profesional pada bidang teknologi informasi dan komunikasi dan teknisi.

Swedia dan Belanda pun merupakan negara dengan persentase tertinggi bagi pekerja yang telah melakukan WFH sebelum pandemi covid-19. Terhitung bahwa Swedia dan Belanda menyentuh angka 37%, diikuti dengan Luxemburg, Finlandia, Denmark, serta Belgium yang rata-rata berada di atas 30%. Dengan kata lain, persentase ini mendeskripsikan bahwa WFH bukanlah fenomena yang baru bagi kebanyakan masyarakat Eropa.

Namun, apakah manfaat utama dari bekerja secara remote ini bagi para karyawan?

Apakah Manfaat Utama dari Working From Home?

Secara personal dan subjektif diri, manfaat besar yang dapat benar-benar dirasakan dari WFH adalah efisiensi waktu, tenaga, dan fleksibilitas dalam bekerja.

Cukup jelas bahwa dengan WFH, kita akan memiliki ‘kantor kecil’ sendiri di rumah. Dengan kata lain, tentunya kita tidak membutuhkan waktu yang cukup banyak khususnya dalam proses komutasi, transportasi, atau perjalanan dari rumah menuju kantor. Sehingga, kondisi fisik dan pikiran akan lebih prima dengan melakukan teleworking ini.

Efisiensi waktu ini tentunya diikuti dengan hematnya energi yang dibutuhkan pada proses bekerja. Secara umum, seorang pekerja tentunya akan melakukan proses perjalanan dari rumah menuju tempatnya bekerja. Selain efisien dalam hal waktu, minimnya tenaga yang dibuang pun menghasilkan pikiran yang fokus. Pikiran yang fokus dan kondisi fisik yang prima ini diyakini akan sangat berhubungan dengan produktivitas seorang pekerja.

Adapun fleksibilitas dalam bekerja bisa diartikan bahwa kita memiliki kesempatan lebih untuk melakukan manajemen waktu dan ruang kerja kita. Kita bisa lebih leluasa dan efisien dalam mengatur jadwal seperti istirahat, makan siang, dan sebagainya. Bagi seorang ibu yang masih menyusui, bekerja di WFH ini pun memberikan fleksibilitas dalam mengasuh anak saat bekerja. Sehingga, produktivitas diri pun masih sangat mudah untuk dicapai.

Manfaat-manfaat ini pun sesuai dari laporan oleh upwork yang mengatakan bahwa perusahaan menilai WFH meningkatkan produktivitas dan fleksibilitas karyawannya. Penghapusan rapat yang tidak memiliki urgensi, meningkatnya fleksibilitas waktu karyawan, dan hilangnya proses komutasi adalah beberapa manfaat lain yang dapat dirasakan.

Berikut merupakan simplifikasi dari beberapa manfaat WFH:

    1. Work-Life Balance
    2. Meningkatkan Jumlah Pertemuan dengan Keluarga
    3. Bebas dari stres transportasi dan commuting
    4. Meningkatnya produktivitas pekerja
    5. Efisiensi waktu, tenaga, dan finansial
    6. Dampak yang positif terhadap lingkungan dan keberlanjutan

Terlepas dari beberapa poin di atas mengenai manfaat WFH, perusahaan juga harus mengkonsiderasikan praktik bisnis perusahaan dengan kondisi karyawannya. Dengan kata lain, terkadang WFH pun bukanlah solusi terbaik dari masalah pandemi covid-19 ini. Bagaimana ini bisa terjadi?

Apakah Hal yang Harus Dipikirkan oleh Perusahaan Mengenai WFH?

Working From Home meskipun diasosiasikan dengan manfaatnya yang umumnya bersifat positif, ternyata hal ini tidak berlaku bagi semua karyawan.

Sebuah penulisan oleh T. Stanton dan Tiwari dari National Bureu of Economic Research justru menemukan bahwa terdapat beberapa golongan masyarakat yang cenderung lebih tidak efisien saat melakukan WFH. Mereka menulis bahwa terdapat beberapa pekerja yang tidak memiliki kantor untuk bekerja justru harus mengeluarkan uang yang lebih besar daripada rata-rata pengeluaran mereka sebelum covid.

Stanton dan Tiwari pun telah mengantisipasi bahwa akan hadir sebuah transisi mengenai bentuk WFH pasca pandemi, di mana bekerja di rumah masing-masing akan menjadi sebuah norma yang umum untuk ditemui. Di Amerika Serikat, transisi ini membutuhkan biaya yang diestimasikan mencapai Rp216 trilliun. Tentunya ini adalah jumlah yang sangat besar untuk disama-ratakan kepada seluruh golongan masyarakat di Amerika Serikat.

“Beberapa dari biaya ini tentunya akan menurunkan keinginan dan entusiasme beberapa pekerja untuk melakukan remote working, karena saat mereka melihat harga rumah dengan kondisi yang layak untuk WFH, harganya akan meningkat sebesar 20%” ujar Stanton, seorang Profesor di Sekolah Bisnis Harvard dan penulis dari laporan di atas. Stanton juga menambahkan bahwa fenomena ini turut akan menjadi krisis bagi para pekerja yang tinggal di apartemen kecil.

Dengan kata lain, kebanyakan pekerja justru membutuhkan gaji atau bantuan finansial lebih untuk mampu menopang dan mengikuti transisi ini.

Dapat disimpulkan bahwa, tidak semua orang justru merasakan dampak atau manfaat yang sama dalam WFH. Justru bagi sebagian dari kita, melakukan hal produktif di rumah, layaknya WFH, meningkatkan rata-rata pengeluaran mereka.

Perusahaan pun harus sensitif mengenai hal ini. Karena bagaimana pun juga, perusahaan yang baik idealnya memahami kondisi dan kebutuhan para karyawannya. Bukankah dengan bekerja di kantor kita justru mendapatkan fasilitas dibandingkan apa yang tidak ada di rumah kita?

Kesimpulan: Fenomena WFH Erat dengan Index ESG

Cukup sering dibahas pada artikel-artikel sebelumnya, bahwa ESG merupakan index praktik perusahaan yang terdefinisikan atas tiga konsep utama: lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.

Selain komitmen perusahaan atas lingkungan di sekitarnya, mereka juga harus selalu sensitif, update, dan aktif pada isu sosial dan tata kelola perusahaannya.

Khususnya selama pandemi ini masih hadir, sebuah perusahaan dengan index berbasis ESG yang baik seharusnya mampu memetakan kebutuhan karyawannya. Khususnya kepada hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan karyawan saat sedang melakukan WFH.

Sebuah perusahaan dengan index sosial yang baik akan lebih aktif untuk memahami kebutuhan dan keterbatasan fasilitas karyawannya. Sehingga, perusahaan pun dapat mengevaluasi ulang dan mengkonsiderasikan apakah karyawan tersebut justru membutuhkan insentif maupun bantuan berupa peminjaman fasilitas. Bukankah hal ini bertujuan untuk mempertahankan karyawan supaya tetap produktif dan justru bermanfaat bagi perusahaan?

Mengutip kembali pernyataan oleh Professor Stanton, hal ini disebabkan tidak semua orang dari berbagai macam lapis golongan masyarakat memiliki fasilitas dan kesempatan yang memadai untuk bekerja saat dia berada di rumah. Akses internet yang baik, kondisi rumah yang mendukung, bahkan tidak adanya prasarana pekerjaan sederhana seperti gadget pun merupakan beberapa aspek yang harus dipikirkan.

Jika seorang karyawan sebuah perusahaan lantas berkewajiban untuk menggunakan internet yang memadai, ditambahkan dengan penambahan fasilitas seperti membeli prasarana untuk bekerja, tentunya akan sangat memberatkan pihak karyawan. Pada fase ini, justru WFH sangat merugikan untuk karyawan.

Sebagai kesimpulan, perusahaan yang berkomitmen untuk memiliki index ESG yang baik tidak bisa berhenti dalam regulasi WFH saja. Mereka juga harus menggali dan memahami lebih dalam kebutuhan dari setiap individu dari perusahaannya. Terkadang, justru solusi umum memberatkan mereka yang termarginalkan. Bukankah perusahaan dengan index ESG yang baik turut berkomitmen untuk menyejahterakan semua karyawannya?

Sering sekali aspek sosial luput dari tata kelola perusahaan. Ironisnya, bukankah kita semua pada dasarnya adalah makhluk sosial?


Baca juga: ESG: Definisi, Contoh, dan Hubungannya dengan Perusahaan

https://staging.cesgs.or.id/2020/12/17/menemukan-makna-s-dalam-esg-investing-mengapa-hal-ini-penting/

https://staging.cesgs.or.id/2021/01/06/good-governance-mengapa-tata-kelola-perusahaan-penting-bagi-investor/

Share This Story, Choose Your Platform!

About the author : M Kamil Ghiffary

Find Us On Facebook

Tags