Akun Keluhan Karyawan Menjamur, Ada karena Dibutuhkan?

Sebenarnya, Akun Keluhan Karyawan itu Apa sih?

Akun Keluhan Karyawan atau akun anonim sambat saat ini banyak diminati di Indonesia sebagai tempat berkeluh kesah atas kehidupan yang terjadi, khususnya kehidupan karyawan. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya jumlah pengikut di sosial medianya, seperti ridehaluing, ecommurz dan hrdbacot. image.pngimage.pngimage.png

Akun anonim adalah akun sosial media yang penggunanya menyamarkan identitas asli. Anonimitas berasal dari kata Yunani yang berarti ‘tanpa nama’ yang dipakai untuk mengidentifikasi obyek baik berupa manusia ataupun benda (Hasfi dkk, 2017).

Keberadaan akun keluhan karyawan dapat menjamin kebebasan berekspresi bagi masyarakat Indonesia (Hasfi dkk, 2017), khususnya karyawan. Selain alasan kebebasan berekspresi, akun keluhan karyawan juga dimanfaatkan sebagai sumber informasi dan hiburan (Kurnia, 2017).

Curhatan karyawan ke akun keluhan karyawan pun beragam. Mulai dari yang negatif seperti marah atas kepuasan kerja yang buruk (Mehra & Nickerson, 2019) hingga yang positif seperti bernostalgia di kantor lama dan apresiasi untuk tempat bekerja (Krishna & Kim, 2015). Namun disisi lain muncul masalah, terutama tentang transparansi dan akuntabilitas infomasi yang disajikan (Hasfi dkk, 2017).

Sebenarnya, curhatan karyawan ini dapat ditampung oleh HRD (Human Resource Development) perusahaan sebagai jalur komunikasi antara perusahaan dan karyawan (Inanlou & Ahn, 2017). Namun mengapa akhir-akhir ini karyawan lebih memilih ‘spill the tea’ di akun keluhan karyawan?

Penyebab Karyawan ‘Spill The Tea’ di Akun Keluhan Karyawan

Komunikasi Atasan atau Perusahaan dengan Karyawan yang Buruk

Fenomena ‘spill the tea’ karyawan di akun keluhan karyawan ini disebabkan komunikasi antara atasan atau perusahaan dengan karyawannya yang buruk (Krishna & Kim, 2015). Dalam penelitian Bucata & Rizescu (2017) atasan di perusahaan harus memiliki kompetensi bisnis, kepemimpinan, manajerial dan komunikasi agar karyawan lebih nyaman saat bekerja sekaligus menceritakan permasalahan pekerjaannya.

Proses Komunikasi Internal Perusahaan yang Tidak Sempurna

Penyebab selanjutnya adalah ketidaksempurnaan proses komunikasi internal perusahaan. Miller (2012) menyatakan komunikasi internal perusahaan yang efisien dan efektif harus memiliki: Obtaining Feedback; Informing Employees dan Engaging Staffs in Dialogue.

Sebagai alat manajemen, komunikasi bertujuan menjalin hubungan interpersonal yang baik dan untuk mencapai tujuan bersama: untuk meningkatkan tingkat keterampilan, kebutuhan untuk memobilisasi karyawan pada jalur tujuan yang berubah, untuk memanfaatkan sumber daya perusahaan demi meningkatkan kinerja perusahaan (Bucata & Rizescu, 2017).

Tidak Tersedianya Tempat Berkeluh Kesah yang Tepat

Di era media sosial, suara karyawan bisa menjadi sumber daya organisasi yang belum dimanfaatkan, tetapi juga bisa menjadi bom waktu media sosial yang menunggu untuk meledak (Miles & Mangold, 2014). Hal ini terjadi karena karyawan tidak memiliki tempat untuk menyampaikan aspirasi atau sekadar berkeluh kesah dengan leluasa. Akibatnya, akun keluhan karyawan menjadi alternatif paling mudah untuk melampiaskannya.

Manajemen Komunikasi yang Buruk

Manajemen komunikasi adalah suatu bentuk kepemimpinan interpersonal yang dapat menjalankan kekuasaan khusus seperti forecasting, training, organisasi, koordinasi, controlling dan evaluasi (Bucata & Rizescu, 2017).

Perusahaan yang membahas dan menyelesaikan perkara konflik, disfungsi operasional dan stres adalah perusahaan yang memiliki manajemen komunikasi yang baik. Jika tiga perkara ini tidak dibahas dengan serius oleh perusahaan, maka berpotensi menjadi penghancur keberlangsungan perusahaan (Beattie & Ellis, 2014).

Capture%2B_2021-03-30-14-57-05.png

Sarana Hiburan dan Merasakan Nasib yang Sama

Karyawan menggunakan media sosial biasanya untuk menambah relasi, berinteraksi, dan mencari dukungan dengan yang berpikiran sama. Selain itu, penggunaan media sosial juga menjadi ajang untuk mengekspresikan diri dan kebutuhan hiburan (Smith dkk, 2017).

Sebab-sebab di atas menjadi alasan yang cukup kuat bagi karyawan lebih nyaman menyampaikan keluhannya di akun keluhan karyawan yang bersifat anonim dan tidak berhubungan apapun dengan tempat kerjanya (Bangsawan dan utami, 2017).

Lalu, apa yang karyawan peroleh dengan sharing ke akun keluhan karyawan?

The Ken (2021) merangkum 5 ‘keuntungan’ yang diperoleh saat karyawan berkeluh kesah ke akun keluhan karyawan. Keuntungan-keuntungan itu adalah:

1. Kerahasiaan
2. Rasa Kebersamaan dan Sepenanggungan
3. Adanya Pendengar/Pembaca
4. Saran yang objektif maupun subjektif
5. Fresh Memes

Kesimpulan: Perusahaan Sebaiknya Memberikan Wadah ‘Keluhan’ untuk Karyawan

Pada artikel-artikel sebelumnya, dijelaskan bahwa ESG merupakan indeks portofolio perusahaan yang terdiri atas tiga konsep utama: lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.

Selain komitmen perusahaan atas lingkungan di sekitarnya, perusahaan juga harus selalu aware dan aktif pada isu sosial dan tata kelola perusahaannya. Jika dalam artikel ini, membahas tentang kesejahteraan karyawannya.

Terutama pada saat pandemi ini, perusahaan dengan indeks berbasis ESG yang baik seharusnya mampu memperhatikan kesehatan mental karyawannya. Dalam artikel ini adalah keluhan, masalah dan tekanan karyawan yang tidak bisa disampaikan langsung oleh karyawan.

Perusahaan dengan indeks sosial yang baik akan lebih aktif untuk memahami kebutuhan dan keterbatasan karyawannya. Sehingga, perusahaan pun dapat meninjau apakah karyawan tersebut sedang membutuhkan bantuan atas keluhan, masalah dan tekanan yang dialaminya saat bekerja.

Penelitian Krishna & Kim (2015) mengungkapkan akun sambat karyawan (dalam penelitiannya, Facebook) digunakan oleh karyawan untuk melampiaskan kemarahan dan frustrasi mereka tentang masalah perusahaan kepada orang lain.

Ini menjadi tantangan PR perusahaan karena postingan bersifat anonim dan dapat diakses siapapun. Postingan juga berpotensi menyerang dan menjatuhkan reputasi perusahaan.

Oleh sebab itu, perusahaan sebaiknya menyediakan wadah ‘keluhan atau layanan konseling untuk karyawannya. Dengan catatan, masalah apapun yang disampaikan dalam layanan konseling tersebut, perusahaan wajib merahasiakan identitas karyawan dan fokus mencari solusi permasalahannya.

Selain itu, peran konseling adalah memfasilitasi hubungan antar karyawan, untuk membangun lingkungan yang bermanfaat bagi perkembangan perusahaan. Dengan terjaganya kesehatan mental dan fisik karyawan, perusahaan sudah berkontribusi untuk kesejahteraan karyawannya.

______

Baca juga artikel lainnya di laman ini!

https://staging.cesgs.or.id/2021/03/25/internship-apakah-bentuk-perbudakan-baru/

https://staging.cesgs.or.id/2020/12/17/menemukan-makna-s-dalam-esg-investing-mengapa-hal-ini-penting/

https://staging.cesgs.or.id/2021/02/26/omnibus-law-esg-apa-yang-salah-dengan-indonesia-tesla/

Share This Story, Choose Your Platform!

About the author : Ikbar Luqyana

Find Us On Facebook

Tags