Internship, Apakah Bentuk Perbudakan Baru?

Internship sebagai Wadah Belajar Bekerja, bukan Eksploitasi

Internship atau pemagangan adalah pelatihan kerja yang dilaksanakan secara terpadu pada lembaga pelatihan dengan bekerja langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja yang lebih berpengalaman dalam proses produksi barang dan/atau jasa di suatu perusahaan, untuk menguasai keterampilan atau keahlian tertentu (UU Ketenagakerjaan, 2003).

Di Indonesia, internship atau pemagangan sudah dilakukan oleh pelajar menengah kejuruan atau SMK. Selain SMK, biasanya internship juga dilakukan mahasiswa perguruan tinggi.

Program internship sangat membantu intern (sebutan pemagang) mempelajari dan mempraktikkan langsung apa yang diajarkan di sekolah atau kampus. Selain itu, intern akan merasakan langsung pengalaman dunia kerja.

Tidak hanya membantu intern, perusahaan juga terbantu dengan adanya internship. Selain menambah sumber daya manusia yang berpotensi, perusahaan terbantu dengan gaji intern yang relatif lebih murah.

Terkait upah yang lebih murah atas intern, salah satu start-up media belajar Indonesia sempat menjadi sorotan publik. Berawal dari informasi bahwa start-up ini sengaja menggunakan karyawan intern karena murah dengan beban kerja seperti karyawan tetap.

Selain itu, sejumlah akun anonim yang mengaku pernah bekerja sebagai tenaga intern di start-up ini menyampaikan bahwa gaji karyawan intern di start-up ini sangat kecil. Kondisi itu berbanding terbalik dengan gencarnya start-up ini melakukan promosi, seperti menyewa stasiun televisi swasta.

Underpaid Mempengaruhi Kinerja Intern?

Karyawan harus sadar akan hubungan antara kinerja mereka dan bagaimana mereka dihargai atas kinerja tersebut. Kesadaran ini penting untuk ditanamkan agar karyawan sejahtera, termasuk intern atau magang (Murphy, 2015).

Penghargaan jelas merupakan inti dari hubungan kerja. Meskipun ada banyak orang yang menikmati bekerja dan mengaku mereka tidak akan berhenti bekerja. Kebanyakan dari kita bekerja karena itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan uang yang kita butuhkan.

Oleh karena itu, berapa banyak karyawan akan dibayar dan dalam bentuk apa adalah hal yang sangat penting bagi perusahaan selaku pemberi kerja serta karyawan (Torrington dkk, 2011). Hal ini juga berlaku untuk intern yang memang gajinya berbeda dengan karyawan perusahaan.

Penghargaan finansial selalu penting dalam mengelola kinerja dan memotivasi karyawan. Hal ini juga berlaku untuk karyawan intern yang sering diberi penghargaan yang rendah (underpaid) (Rothschild, 2020).

Belajar dari kasus yang start-up media belajar Indonesia, banyak curhatan yang terangkat di media sosial mengenai karyawan magang yang dibayar rendah dan tidak sebanding dengan tanggung jawab kerja yang diemban. Ini hanya salah satu dampak dari underpaid.

Dampak lainnya berupa burn out dan terganggunya work-life balance (Sirgy & Lee, 2017). Jika karyawan sudah mencapai tahap burn-out dan work-life balancenya terganggu, kinerja dan produktivitas karyawan akan menurun (Gonzalez, 2015).

Yang Harus Perusahaan Lakukan atas Intern

Peraturan internship atau pemagangan di Indonesia, diatur dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 21-30. Lebih spesifiknya diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi no. Per.22/Men/IX/2009 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri.

Peserta pemagangan dalam negeri meliputi pencari kerja atau pekerja yang akan ditingkatkan kompetensinya. Peserta harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
– usia paling rendah 17 tahun untuk pencari kerja. Jika berusia tepat 17 tahun, – harus melampirkan surat persetujuan dari orang tua atau wali;
– sehat jasmani dan rohani; dan
– lulus seleksi.

Antara peserta pemagangan dan perusahaan dibuat perjanjian secara tertulis. Berdasarkan Pasal 10 ayat (2) Permenaker 6/2020, perjanjian pemagangan berisi:
– hak dan kewajiban peserta pemagangan;
– hak dan kewajiban penyelenggara pemagangan;
– program pemagangan;
– jangka waktu pemagangan; dan
– besaran uang saku.

Dengan demikian, baik perusahaan maupun pegawai intern saling memiliki tanggung jawab dan hak yang tertulis. Perjanjian Magang dilakukan untuk menghindari terjadinya wanprestasi antara perusahaan penyelenggara program internship dan pegawai intern.

***

Baca juga artikel lainnya di laman ini!

https://staging.cesgs.or.id/2020/12/22/esg-apa-perbedaannya-dengan-investasi-biasa/

https://staging.cesgs.or.id/2021/03/19/wfh-dan-esg-index-manfaat-dan-yang-harus-diperhatikan/

https://staging.cesgs.or.id/2021/01/06/good-governance-mengapa-tata-kelola-perusahaan-penting-bagi-investor/

Share This Story, Choose Your Platform!

About the author : Ikbar Luqyana